Minggu, 10 Juni 2012

Kesalahan-kesalahan Kata dalam Penulisan Ilmiah

Kesalahan-kesalahan Kata dalam Penulisan Ilmiah


Setelah sebelumnya saya banyak membahas tentang apa yang harus ditulis di konten (kandungan isi) dari beberapa sub-bab, berikut ini dibahas beberapa kesalahan dalam penulisan kata.

Berikut contoh-contoh kesalahan penulisan yang banyak dilakukan seorang penulis yang dikritik para penguji. Tulisan ini berdasarkan sidang-sidang yang banyak saya ikuti, khususnya sidang PI, Skripsi, atau Tesis.

1.       Konsistensi penulisan.
Banyak tulisan yang kekonsistenan penggunaan istilah kurang terpelihara, contoh sederhana saja, kadang-kadang ditulis dengan "Windows XP" tapi di lain halaman, menggunakan "windows xp" atau "Windows Xp" dan sebagainya.
2.       Penggunaan kata asing.
Banyak tulisan yang tidak menulis miring (Italic) pada istilah-istilah asing. Istilah asing adalah kata yang bukan kata dalam bahasa Indonesia yang benar. Misalkan "didisplay," "didownload," dan sebagainya. Seharusnya ditulis dengan bahasa Indonesia yang sudah baku saja, misalkan dipajang, dan diunduh, atau kalau terpaksa sekali ditulis dengan "di-display," "di-download" dan sebagainya;
3.       Penggunaan kata perintah.
Ini juga banyak dilakukan, mahasiswa lupa bahwa ia sedang menulis tulisan ilmiah yang harus dipertahankan kebenarannya, ia bukan sedang menulis buku yang boleh seenaknya meminta, mengajak,atau  mengajari  si pembacanya. Jadi, mahasiswa tidak boleh mengajari pengujinya (ketika tulisannya dibaca penguji nantinya). Untuk itu, hindari kata perintah dengan membuat kalimat pasif (berkesan si penulis sendirilah yang mengerjakannya). Contoh kata-kata perintah yang sering digunakan "kliklah," "buatlah," "lakukanlah", dan semacamnya. Jadi, untuk kalimat "langkah selanjutnya adalah, buatlah kotak…" yang perlu diubah menjadi "langkah selanjutnya adalah dibuat kotak…".
4.       Mengajak pembaca ikut campur
Mirip dengan kasus 3 di atas, banyak pula tulisan yang mengajak pembacanya ikut campur (ikut berpikir, ikut merasakan, ikut tahu) dan lain-lain. Karenanya, hindari penggunaan kata ganti orang (khususnya) seperti "Anda," "kita", misalnya pada contoh: "Seperti telah kita ketahui bersama…" yang boleh saja ditulis dengan "seperti telah diketahui bersama…".
5.       Penulisan kata majemuk
Banyak juga mahasiswa yang menulis pemajemukan kata yang tidak tepat, seperti "macam – macam". Penulisan tersebut dibaca dengan "macam" "dikurang" "macam" (karena ada spasinya). Bila untuk memajemukkan kata, maka tidak perlu menggunakan spasi, sebagaimana bahasa Inggris, "banyak anjing" ditulis dengan "dogs" bukan "dog s". Jadi, tulis "macam-macam". Begitu juga penggunaan majemuk untuk bahasa Inggris yang diindonesiakan, seperti "file-file". Ini membingungkan, mau pakai bahasa Inggris atau bahasa Indonesia, lebih baik dipilih yang pasti. "files" atau "berkas-berkas".
6.       Penggunaan huruf kapital (huruf besar)
Dalam bahasa Indonesia, penulisan huruf besar (khususnya di huruf pertama suatu kata), hanya diwajibkan untuk beberapa hal, misalkan nama orang, nama perusahaan, kata pertama dari suatu kalimat, nama judul, nama software, nama singkatan, dan semacamnya. Namun, banyak mahasiswa yang merendahkan bangsanya karena setiap istilah asing selalu dimulai huruf besar, misalnya: "Teknologi informasi berkembang pesat, baik dari segi Software maupun Hardware-nya."
7.       Penggunaan kata majemuk yang berlebihan.
       Hal ini sangat khusus pada kata "data-data." Padahal kata "data" saja sudah majemuk (bahasa Inggris "datas" tidak ada). Hal itu berbeda jika ditulis dengan "beberapa jenis data". Baca tulisan saya di "Konsep Data dan Informasi"
8.       Penggunaan kata atau suku kata "di"
Ini adalah kesalahan terbanyak yang dilakukan mahasiswa. Gunakan kata "di" terpisah dengan kata berikutnya jika menunjukkan tempat, seperti "di atas", "di samping", di "pasar" dan sebagainya. Sebaliknya, gabung suku kata "di" dengan kata berikutnya jika menghasilkan kata kerja, misalkan "dipisah", "dilakukan", dan sebagainya.
9.       Penggunaan nomor hitungan.
Misalkan kalimat berikut ini "Hari ini adalah hari ulang tahun Sri Sultan Hamengku Buwono ke-10". Anda bisa tahu ulang tahun ke berapa ?, tentu tidak karena di kalimat itu tidak dijelaskan. Lalu, bagaimana dengan kalimat "Selamat ulang tahun Kota Depok ke-13", Anda pasti menyangka bahwa  saat ini Kota Depok berulang tahun yang ke-13 kalinya. Padahal posisinya sama dengan Sri Sultan di contoh sebelumnya, mengapa tidak disimpulkan, Sri Sultan Hamengku Buwono hari ini berusia 10 tahun ?. Karena yang berulang itu hari jadinya (perayaannya), maka angka tersebut harus merapat  ke hari jadinya itu: "Selamat Ulang Tahun ke-13 Kota Depok".
10.   Penulisan kata-kata yang salah (bukan kata yang baku)
Misal kesalahan ini adalah "sekedar" seharusnya "sekadar", "resiko" seharusnya "risiko", "apotik" seharusnya "apotek", "silahkan" seharusnya "silakan", "hutang" seharusnya "utang", dan sebagainya.
11.   Penulisan singkatan yang tidak perlu.
     Untuk penulisan kata yang sudah cukup pendek, tidak perlu disingkat lagi, seperti            "yg" untuk "yang", "dsb" untuk "dan sebagainya", "krn" untuk karena, "dll" untuk "dan lain-lain", dan sebagainya. Andaikan singkatan itu adalah singkatan dari beberapa kata yang panjang, misalkan "ASCII" maka singkatan itu harus didahului dengan istilah aslinya (tidak boleh tiba-tiba jadi ASCII), misalkan didahului dengan "American Standard Code for Information Interchange (ASCII)" baru di tulisan berikutnya langsung ditulis ASCII saja, tidak perlu kepanjangan-nya.

Masih ada beberapa lagi, tapi ini dulu deh. Semoga bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar